Komunikasi dalam Organisasi
BAB I
Pendahuluan
Sebelum membahas pengertian
komunikasi organisasi sebaiknya kita uraikan terminologi yang melekat pada
konteks komunikasi organisasi, yaitu komunikasi dan organisasi.
Komunikasi berasal dari bahasa latin “communis” atau “common” dalam bahasa
Inggris yang berarti sama. Berkomunikasi berarti kita berusaha untuk mencapai
kesamaan makna, “commonness”. Atau dengan ungkapan yang lain, melalui
komunikasi kita mencoba berbagi informasi, gagasan atau sikap kita dengan partisipan
lainnya. Kendala utama dalam berkomunikasi adalah seringkali kita
mempunyai makna yang berbeda terhadap lambang yang sama
Sedangkan organisasi berasal dari
bahasa Inggris “organization” yang artinya adalah sekelompok manusia yang
berkumpul untuk memenuhi tujuan dari kelompok maupun individual. Setiap
organisasi pasti mempunyai tujuan. Ada 2 tipe organisasi yaitu organisasi
formal dan organisasi informal. Organisasi formal adalah organisasi yang
dibentuk dengan keanggotaan yang jelas, tujuan yang jelas, tanggung jawab antar
kelompok yang jelas, dan pengrekrutan kelompok yang jelas, contoh organisasi
formal di dalam lingkungan universitas Gunadarma adalah Badan Eksekutif
Mahasiswa atau yang disingkat dengan BEM. Adapun organisasi yang informal yaitu
organisasi yang hanya bersifat sementara dan tidak mempunyai tujuan yang real,
contohnya makan malam sesama anak sistem informasi.
Manusia adalah mahkluk monodualisme
yaitu manusia sebagai mahkluk individu dan mahkluk sosial. Karena manusia
adalah mahkluk sosial, manusia pasti membutuhkan manusia lainnya untuk
bersosialisasi dan berinteraksi sebagai kelompok ataupun sebagai masyarakat.
Hal ini merupakan suatu hakekat bahwa sebagian besar pribadi manusia terbentuk
dari hasil integrasi sosial dengan sesama dalam kelompok dan masyarakat. Di
dalam kelompok atau organisasi itu selalu terdapat bentuk kepemimpinan yang
merupakan masalah penting untuk kelangsungan hidup kelompok karena bila tidak
ada pemimpin maka tidak ada yang dapat mengatur kelompok atau organisasi
tersebut. Biasanya, suatu kelompok terdiri dari pemimpin, dan anggota kelompok.
Di antara kedua belah pihak harus ada two-way-communications atau komunikasi
dua arah atau komunikasi timbal balik, untuk itu diperlukan adanya kerja sama
yang diharapkan untuk mencapai cita-cita, baik cita-cita pribadi, maupun
kelompok, untuk mencapai tujuan suatu organisasi. Kerja sama tersebut terdiri
dari berbagai maksud yang meliputi hubungan sosial atau kebudayaan. Hubungan
yang terjadi merupakan suatu proses adanya suatu keinginan masing-masing
individu untuk memperoleh suatu hasil yang nyata dan dapat memberikan manfaat
untuk kehidupan yang berkelanjutan.
Jenis-Jenis Komunikasi
Bila sasaran komunikasi dapat
diterapkan dalam suatu organisasi baik organisasi pemerintah, organisasi
kemasyarakatan, maupun organisasi perusahaan, maka sasaran yang dituju pun akan
beraneka ragam, tapi tujuan utamanya tentulah untuk mempersatukan
individu-individu yang tergabung dalam organisasi tersebut. Berdasarkan sifat komunikasi
dan jumlah komunikasi menurut Onong Uchyana Effendi dalam bukunya yang
berjudul “Dimensi-Dimensi Komunikasi” hal. 50, komunikasi dapat
digolongkan ke dalam tiga kategori:
1. Komunikasi antar pribadi
Komunikasi ini penerapannya antara
pribadi/individu dalam usaha menyampaikan informasi yang dimaksudkan untuk
mencapai kesamaan pengertian, sehingga dengan demikian dapat tercapai keinginan
bersama.
2. Komunikasi kelompok
Pada prinsipnya dalam melakukan suatu
komunikasi yang ditekankan adalah faktor kelompok, sehingga komunikasi menjadi
lebih luas. Dalam usaha menyampaikan informasi, komunikasi dalam kelompok tidak
seperti komunikasi antar pribadi.
3. Komunikasi massa
Komunikasi massa dilakukan dengan melalui
alat, yaitu media massa yang meliputi cetak dan elektronik.
Dalam melakukan komunikasi
organisasi, Steward L.Tubbs dan Sylvia Moss dalam Human Communication
menguraikan adanya 3 (tiga) model dalam komunikasi:
1. Model komunikasi linier
(one-way communication), dalam model ini komunikator memberikan suatu stimuli
dan komunikan melakukan respon yang diharapkan tanpa mengadakan seleksi dan
interpretasi. Komunikasinya bersifat monolog.
2. Model komunikasi
interaksional. Sebagai kelanjutan dari model yang pertama, pada tahap ini sudah
terjadi feedback atau umpan balik. Komunikasi yang berlangsung bersifat dua
arah dan ada dialog, di mana setiap partisipan memiliki peran ganda, dalam arti
pada satu saat bertindak sebagai komunikator, pada saat yang lain bertindak
sebagai komunikan.
3. Model komunikasi
transaksional. Dalam model ini komunikasi hanya dapat dipahami dalam konteks
hubungan (relationship) antara dua orang atau lebih. Pandangan ini menekankan
bahwa semua perilaku adalah komunikatif. Tidak ada satupun yang tidak dapat
dikomunikasikan.
Mengenai organisasi, salah satu
defenisi menyebutkan bahwa organisasi merupakan suatu kumpulan atau sistem
individual yang melalui suatu hirarki/jenjang dan pembagian kerja, berupaya
mencapai tujuan yang ditetapkan. Dari batasan tersebut dapat digambarkan
bahwa dalam suatu organisasi mensyaratkan:
Adanya suatu jenjang jabatan ataupun
kedudukan yang memungkinkan semua individu dalam organisasi tersebut memiliki
perbedaan posisi yang jelas, seperti pimpinan, staff pimpinan dan karyawan.
Adanya pembagian kerja, dalam arti
setiap orang dalam sebuah institusi baik yang komersial maupun sosial, memiliki
satu bidang pekerjaan yang menjadi tanggungjawabnya.
Dengan landasan konsep-konsep
komunikasi dan organisasi sebagaimana yang telah diuraikan, maka kita dapat
memberi batasan tentang komunikasi dalam organisasi secara sederhana, yaitu
komunikasi antarmanusia (human communication) yang terjadi dalam kontek
organisasi. Atau dengan meminjam definisi dari Goldhaber, komunikasi
organisasi diberi batasan sebagai arus pesan dalam suatu jaringan yang sifat
hubungannya saling bergabung satu sama lain (the flow of messages within a
network of interdependent relationships).
Sebagaimana telah disebut terdahulu,
bahwa arus komunikasi dalam organisasi meliputi komunikasi vertikal dan
komunikasi horizontal. Masing-masing arus komunikasi tersebut mempunyai
perbedaan fungsi yang sangat tegas. Ronald Adler dan George Rodman dalam
bukunya yang berjudul “Understanding Human Communication”, mencoba
menguraikan masing-masing, fungsi dari kedua arus komunikasi dalam organisasi
tersebut sebagai berikut:
1. Downward communication, yaitu
komunikasi yang berlangsung ketika orang-orang yang berada pada tataran
manajemen mengirimkan pesan kepada bawahannya. Fungsi arus komunikasi
dari atas ke bawah ini adalah:
a) Pemberian atau penyimpanan
instruksi kerja (job instruction)
b) Penjelasan dari pimpinan tentang
mengapa suatu tugas perlu untuk dilaksanakan (job retionnale)
c) Penyampaian informasi mengenai
peraturan-peraturan yang berlaku (procedures and practices)
d) Pemberian motivasi kepada
karyawan untuk bekerja lebih baik.
2. Upward communication, yaitu
komunikasi yang terjadi ketika bawahan (subordinate) mengirim pesan kepada
atasannya. Fungsi arus komunikasi dari bawah ke atas ini adalah:
a) Penyampaian informai tentang
pekerjaan pekerjaan ataupun tugas yang sudah dilaksanakan
b) Penyampaian informasi tentang
persoalan-persoalan pekerjaan ataupun tugas yang tidak dapat diselesaikan oleh
bawahan
c) Penyampaian saran-saran perbaikan
dari bawahan
d) Penyampaian keluhan dari bawahan
tentang dirinya sendiri maupun pekerjaannya.
3. Horizontal communication,
yaitu tindak komunikasi ini berlangsung di antara para karyawan ataupun bagian
yang memiliki kedudukan yang setara. Fungsi arus komunikasi horisontal
ini adalah:
a) Memperbaiki koordinasi
tugas
b) Upaya pemecahan masalah
c) Saling berbagi informasi
d) Upaya pemecahan konflik
e) Membina hubungan
melalui kegiatan bersama.
Proses Komunikasi
. Proses berkomunikasi dimulai dari
adanya pesan yang akan disampaikan oleh pengirim, kemudian ditransfer melalui
suatu channel (saluran), kemudian diterima oleh penerima.
Fungsi Komunikasi dalam Organisasi
Dalam suatu organisasi baik yang
berorientasi komersial maupun sosial, komunikasi dalam organisasi atau lembaga
tersebut akan melibatkan empat fungsi, yaitu:
1. Fungsi informatif
Organisasi dapat dipandang sebagai
suatu sistem pemrosesan informasi (information-processing system). Maksudnya,
seluruh anggota dalam suatu organisasi berharap dapat memperoleh informasi yang
lebih banyak, lebih baik dan tepat waktu. Informasi yang didapat memungkinkan
setiap anggota organisasi dapat melaksanakan pekerjaannya secara lebih pasti
informasi pada dasarnya dibutuhkan oleh semua orang yang mempunyai perbedaan
kedudukan dalam suatu organisasi. Orang-orang dalam tataran manajemen
membutuhkan informasi untuk membuat suatu kebijakan organisasi ataupun guna
mengatasi konflik yang terjadi di dalam organisasi. Sedangkan karyawan
(bawahan) membutuhkan informasi tentang jaminan keamanan, jaminan sosial dan
kesehatan, izin cuti dan sebagainya.
2. Fungsi Regulatif
Fungsi regulatif ini berkaitan
dengan peraturan-peraturan yang berlaku dalam suatu organisasi. Pada
semua lembaga atau organisasi, ada dua hal yang berpengaruh terhadap fungsi
regulatif ini, yaitu:
Atasan atau orang-orang yang berada
dalam tataran manajemen yaitu mereka yang memiliki kewenangan untuk
mengendalikan semua informasi yang disampaikan. Disamping itu mereka juga
mempunyai kewenangan untuk memberikan instruksi atau perintah, sehingga dalam
struktur organisasi kemungkinan mereka ditempatkan pada lapis atas (position of
authority) supaya perintah-perintahnya dilaksanakan sebagaimana semestinya.
Namun demikian, sikap bawahan untuk menjalankan perintah banyak bergantung
pada:
Keabsahan pimpinan dalam
penyampaikan perintah.
Kekuatan pimpinan dalam memberi
sanksi.
Kepercayaan bawahan terhadap atasan
sebagai seorang pemimpin sekaligus sebagai pribadi.
Tingkat kredibilitas pesan yang
diterima bawahan.
Berkaitan dengan pesan atau
message. Pesan-pesan regulatif pada dasarnya berorientasi pada
kerja. Artinya, bawahan membutuhkan kepastian peraturan-peraturan tentang
pekerjaan yang boleh dan tidak boleh untuk dilaksanakan.
3. Fungsi Persuasif
Dalam mengatur suatu organisasi,
kekuasaan dan kewenangan tidak akan selalu membawa hasil sesuai dengan yang
diharapkan. Adanya kenyataan ini, maka banyak pimpinan yang lebih suka
untuk mempersuasi bawahannya daripada memberi perintah. Sebab pekerjaan
yang dilakukan secara sukarela oleh karyawan akan menghasilkan kepedulian yang
lebih besar dibanding kalau pimpinan sering memperlihatkan kekuasaan dan
kewenangannya.
4. Fungsi Integratif
Setiap organisasi berusaha
menyediakan saluran yang memungkinkan karyawan dapat dilaksanakan tugas dan
pekerjaan dengan baik. Ada dua saluran komunikasi formal seperti
penerbitan khusus dalam organisasi tersebut (newsletter, buletin) dan laporan
kemajuan oraganisasi; juga saluran komunikasi informal seperti perbincangan
antarpribadi selama masa istirahat kerja, pertandingan olahraga ataupun
kegiatan darmawisata. Pelaksanaan aktivitas ini akan menumbuhkan
keinginan untuk berpartisipasi yang lebih besar dalam diri karyawan terhadap
organisasi.
Memahami Komunikasi dalam Organisasi
Gaya komunikasi atau communication
style akan memberikan pengetahuan kepada kita tentang bagaimana perilaku
orang-orang dalam suatu organisasi ketika mereka melaksanakan tindak berbagi
informasi dan gagasan. Sementara pada pengaruh kekuasaan dalam
organisasi, kita akan mengkaji jenis-jenis kekuasaan yang digunakan oleh
orang-orang dalam tataran manajemen sewaktu mereka mencoba mempengaruhi
kemampuan berkomunikasi dalam organsasi, kita akan diajak untuk memikirkan
bagaimana mendefinisikan tujuan kita sehubungan dengan tugas dalam organisasi,
bagaimana kita memilih orang yang tepat untuk diajak kerjasama dan bagaimana
kita memilih saluran yang efektif untuk melaksanakan tugas tersebut.
Gaya Komunikasi. Gaya komunikasi
(communication style) didefinisikan sebagai seperangkat perilaku antarpribadi
yang terspesialisasi yang digunakan dalam suatu situasi tertentu (a specialized
set of intexpersonal behaviors that are used in a given situation).
Masing-masing gaya komunikasi
terdiri dari sekumpulan perilaku komunikasi yang dipakai untuk mendapatkan
respon atau tanggapan tertentu dalam situasi yang tertentu pula.
Kesesuaian dari satu gaya komunikasi yang digunakan, bergantung pada maksud
dari pengirim (sender) dan harapan dari penerima (receiver).
Gaya Komunikasi yang akan kita
pelajari adalah sbb:
1. The
Controlling style
Gaya komunikasi yang bersifat
mengendalikan ini, ditandai dengan adanya satu kehendak atau maksud untuk
membatasi, memaksa dan mengatur perilaku, pikiran dan tanggapan orang
lain. Orang-orang yang menggunakan gaya komunikasi ini dikenal dengan
nama komunikator satu arah atau one-way communications.
Pihak-pihak yang memakai controlling
style of communication ini, lebih memusatkan perhatian kepada pengiriman pesan
dibanding upaya mereka untuk berharap pesan. Mereka tidak mempunyai rasa
ketertarikan dan perhatian untuk berbagi pesan. Mereka tidak mempunyai
rasa ketertarikan dan perhatian pada umpan balik, kecuali jika umpan balik atau
feedback tersebut digunakan untuk kepentingan pribadi mereka. Para
komunikator satu arah tersebut tidak khawatir dengan pandangan negatif orang
lain, tetapi justru berusaha menggunakan kewenangan dan kekuasaan untuk memaksa
orang lain mematuhi pandangan-pandangannya.
Pesan-pesan yag berasal dari
komunikator satu arah ini, tidak berusaha ‘menjual’ gagasan agar dibicarakan
bersama namun lebih pada usaha menjelaskan kepada orang lain apa yang
dilakukannya. The controlling style of communication ini sering dipakai
untuk mempersuasi orang lain supaya bekerja dan bertindak secara efektif, dan
pada umumnya dalam bentuk kritik. Namun demkian, gaya komunikasi yang
bersifat mengendalikan ini, tidak jarang bernada negatif sehingga menyebabkan
orang lain memberi respons atau tanggapan yang negatif pula.
2. The
Equalitarian style
Aspek penting gaya komunikasi ini
ialah adanya landasan kesamaan. The equalitarian style of communication
ini ditandai dengan berlakunya arus penyebaran pesan-pesan verbal secara lisan
maupun tertulis yang bersifat dua arah (two-way traffic of communication).
Dalam gaya komunikasi ini, tindak
komunikasi dilakukan secara terbuka. Artinya, setiap anggota organisasi
dapat mengungkapkan gagasan ataupun pendapat dalam suasana yang rileks, santai
dan informal. Dalam suasana yang demikian, memungkinkan setiap anggota
organisasi mencapai kesepakatan dan pengertian bersama.
Orang-orang yang menggunakan gaya
komunikasi yang bermakna kesamaan ini, adalah orang-orang yang memiliki sikap
kepedulian yang tinggi serta kemampuan membina hubungan yang baik dengan orang
lain baik dalam konteks pribadi maupun dalam lingkup hubungan kerja. The
equalitarian style ini akan memudahkan tindak komunikasi dalam organisasi,
sebab gaya ini efektif dalam memelihara empati dan kerja sama, khususnya dalam
situasi untuk mengambil keputusan terhadap suatu permasalahan yang
kompleks. Gaya komunikasi ini pula yang menjamin berlangsungnya tindakan
share/berbagi informasi di antara para anggota dalam suatu organisasi.
3. The
Structuring style
Gaya komunikasi yang berstruktur
ini, memanfaatkan pesan-pesan verbal secara tertulis maupun lisan guna
memantapkan perintah yang harus dilaksanakan, penjadwalan tugas dan pekerjaan
serta struktur organisasi. Pengirim pesan (sender) lebih memberi
perhatian kepada keinginan untuk mempengaruhi orang lain dengan jalan berbagi
informasi tentang tujuan organisasi, jadwal kerja, aturan dan prosedur yang
berlaku dalam organisasi tersebut.
Stogdill dan Coons dari The Bureau
of Business Research of Ohio State University, menemukan dimensi dari
kepemimpinan yang efektif, yang mereka beri nama Struktur Inisiasi atau
Initiating Structure. Stogdill dan Coons menjelaskan mereka bahwa
pemrakarsa (initiator) struktur yang efisien adalah orang-orang yang mampu
merencanakan pesan-pesan verbal guna lebih memantapkan tujuan organisasi,
kerangka penugasan dan memberikan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang
muncul.
4. The
Dynamic style
Gaya komunikasi yang dinamis ini
memiliki kecenderungan agresif, karena pengirim pesan atau sender memahami
bahwa lingkungan pekerjaannya berorientasi pada tindakan
(action-oriented). The dynamic style of communication ini sering dipakai
oleh para juru kampanye ataupun supervisor yang membawa para wiraniaga
(salesmen atau saleswomen).
Tujuan utama gaya komunikasi yang
agresif ini adalah mestimulasi atau merangsang pekerja/karyawan untuk bekerja
dengan lebih cepat dan lebih baik. Gaya komunikasi ini cukup efektif
digunakan dalam mengatasi persoalan-persoalan yang bersifat kritis, namun
dengan persyaratan bahwa karyawan atau bawahan mempunyai kemampuan yang cukup
untuk mengatasi masalah yang kritis tersebut.
5. The
Relinguishing style
Gaya komunikasi ini lebih
mencerminkan kesediaan untuk menerima saran, pendapat ataupun gagasan orang
lain, daripada keinginan untuk memberi perintah, meskipun pengirim pesan
(sender) mempunyai hak untuk memberi perintah dan mengontrol orang lain.
Pesan-pesan dalam gaya komunikasi
ini akan efektif ketika pengirim pesan atau sender sedang bekerja sama dengan
orang-orang yang berpengetahuan luas, berpengalaman, teliti serta bersedia
untuk bertanggung jawab atas semua tugas atau pekerjaan yang dibebankannya.
6. The
Withdrawal style
Akibat yang muncul jika gaya ini
digunakan adalah melemahnya tindak komunikasi, artinya tidak ada keinginan dari
orang-orang yang memakai gaya ini untuk berkomunikasi dengan orang lain, karena
ada beberapa persoalan ataupun kesulitan antarpribadi yang dihadapi oleh
orang-orang tersebut.
Dalam deskripsi yang kongkrit adalah
ketika seseorang mengatakan: “Saya tidak ingin dilibatkan dalam persoalan
ini”. Pernyataan ini bermakna bahwa ia mencoba melepaskan diri dari
tanggung jawab, tetapi juga mengindikasikan suatu keinginan untuk menghindari
berkomunikasi dengan orang lain. Oleh karena itu, gaya ini tidak layak
dipakai dalam konteks komunikasi organisasi.
Gambaran umum yang diperoleh dari
uraian di atas adalah bahwa the equalitarian style of communication merupakan
gaya komunikasi yang ideal. Sementara tiga gaya komunikasi lainnya:
structuring, dynamic dan relinguishing dapat digunakan secara strategis untuk
menghasilkan efek yang bermanfaat bagi organisasi. Dan dua gaya
komunikasi terakhir: controlling dan withdrawal mempunyai kecenderungan
menghalangi berlangsungnya interaksi yang bermanfaat
Hambatan Komunikasi dalam Organisasi
Secara Efektif
Walau komunikasi biasanya bersifat untuk memberi informasi atau berbincang demi
menjaga harmonis organisasi, tetapi komunikasi bisa saja mempunyai hambatan
yang membuat organisasi tidak berjalan secara efektif, diantaranya adalah :
1.
Filtering, yaitu pengirim pesan memanipulasi informasi sehingga informasi
tersebut seakan-akan terlihat menguntungkan.
2.
Selective perception, yaitu penerima pesan dalam proses komunikasi secara
selektif melihat dan mendengar pesan tersebut berdasarkan kebutuhan, motivasi,
pengalaman, dan berbagai karakteristik pribadinya.
3.
Information overload, yaitu informasi yang kita terima melebihi kapasitas kita
dalam memproses/mengolah informasi tersebut.
4.
Emotions, yaitu interpretasi yang berbeda terhadap informasi saat kita sedang
sedih dengan saat kita merasa senang.
5.
Language atau bahasa, yaitu ketidakpahaman terhadap bahasa atau istilah-istilah
tertentu antara satu orang dengan yang lain.
6.
Silence, yaitu tidak adanya komunikasi
7.
Communcation apprehention, yaitu ketakutan/kecemasan
seseorang untuk berkomunikasi
8.
Lying, atau berbohong.
Cara Mengatasi Hambatan Komunikasi
dalam Organisasi
Adapun cara-cara yang efektif supaya tidak terjadinya hambatan komunikasi dalam
organisasi yaitu :
1.
Membuat suatu pesan secara berhati-hati, tentukan maksud dan tujuan komunikasi
serta komunikan yang akan dituju.
2.
Meminimalkan gangguan dalam proses komunikasi, komunikator harus berusaha dapat
membuat komunikan lebih mudah memusatkan perhatian pada pesan yang disampaikan
sehingga penyampaian pesan dapat berlangsung tanpa gangguan yang berarti.
3.
Mempermudah upaya umpan balik antara si pengirim dan si penerima pesan, cara
dan waktu penyampaian dalam komunikasi harus direncanakan dengan baik agar
mengahasilkan umpan balik dari komunikan sesuai harapan.
Penutup
A. Kesimpulan
Manusia merupakann mahkluk
mondualisme yaitu manusia sebagai mahkluk individu dan mahkluk sosial. Dengan
kordatnya sebagai mahkluk sosial, maka manusia pasti membutuhkan manusia
lainnya untuk bersosialisasi dan berinteraksi baik kepada individu lain maupun
kepada suatu kelompok atau organisasi.. Dalam menjalankan sosialisasinya
manusia membutuhkan komunikasi yang baik dan benar, komunikasi merupakan
suatu usaha untuk mencapai suatu kesamaan makna maupun tujuan. Manusia
yang berkumpul dan berkelompok untuk memenuhi suatu tujuan yang sama dari
kelompok maupun individu disebut sebagai Organisasi. Organisasi pada umunya
terdiri dari pimpinan serta para anggota organisasi. Suatu organisasi akan
berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan apabila komunikasi pada setiap
anggota ini dapat berjalan dengan semestinya. Tidak hanya setiap anggota saja
akan tetapi pemimpin suatu kelompok berkewajiban untuk selalu menjaga
komunikasi dengan bawahannya. Komunikasi dapat diterapkan dan berjalan dengan
baik dalam suatu organisasi apabila pemimpin suatu organisasi bisa dan mau
mendengar saran, insfirasi dan pendapat dari anggota kelompok, saling tukar
informasi sebih banyak lebih baik serta tepat waktu, kepercayaan bawahan
terhadap atasan sebagai seorang pemimpin maupun seorang pribadi, bawahan maupun
anggota membutuhkan kepastian peraturan –peraturan tentang pekerjaan yang boleh
dan tidak boleh untuk dilaksanakan, seorang pemimpin tidak harus memperlihatkan
kekuasaan dan kewenangannya terhadap bawahannya, serta setiap organisasi harus
menyediakan saluran komunikasi. Apabila semua kontek diatas terpenuhi maka
komunikasi dalam organisasi akan berjalan sesuai dengan apa yang
diharapkan.
B. Saran
Kita sebagai mahkluk sosial harus
bisa berkomunikasi baik antar individu atau antar kelompok individu. Belajar
berkomunikasi dalam suatu organisasi sangatlah penting. Kita sebagai pelajar
atau mahasiswa wajib belajar berkomunikasi yang baik dan benar karena kalau
tidak dimulai dari sekarang akan mengalami banyak kerugian di masa yang akan
datang. Diharapkan pelajaran komunikasi tidak hanya dipelajari di luar kelas
saja tetapi masuk ke pelajaran formal, supaya nantinya dalam terjun ke
masyarakat, pemerintahan, dan dunia kerja kita sudah mempunyai skill dimana
kita bisa berkomunikasi secara baik dan benar.
Daftar Pustaka
Mulyana. 2008. Teori
Komunikasi-modul.
Thoha, Miftah.1996. Perilaku
Organisasi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar